Selasa, 05 Juni 2012

Panduan Ilmu Tajwid dan sejarah Pembukuan Al-Qur'an


Panduan Lengkap Ilmu Tajwid [Makalah Qiroat Qur'an]

Pada postingan kali ini saya akan coba berbagi materi yang berhubungan dengan mata kuliah Qiroat Qur’an dalam hal ini di SMP Negeri 1 Arjawinangun khusus untuk lokal kami, PAI Extension I Qiroat Qur’an disampaikan oleh dosen bapak Ahroji, S.Ag. Dan di semester I ini beliau masih menyampaikan materi yang berhubungan dengan tata cara membaca Al Qur’an salah satunya adalah mempelajari ilmu tajwid. Biasanya tiap minggu kami kebagian menyampaikan materi tajwid tersebut dalam bentuk kelompok, alhamdulillah khusus untuk materi ilmu tajwid ini rekan-rekan di lokal kami rata-rata sudah memahami jadi tidak terlalu kesulitan dalam proses penyampaian atau pemahamannya.
Namun untuk membantu dan memudahkan bagi yang ingin mempelajari ilmu tajwid, saya telah membuat panduan lengkap ilmu tajwid dalam bentuk makalah, panduan lengkap cara mudah belajar ilmu tajwid ini saya ambil dari berbagai referensi baik ebook ataupun dari software ilmu tajwid. Catatan lengkap ilmu tajwid ini secara garis besar berisi :
Beberapa Hal Mengenai Huruf
Huruf Arab dan Tanda Baris
Huruf Arab
Tanda Baris
Huruf Qalqalah
Pengucapan Secara Tafkhiim atau Tarqiiq Huruf Isti‘
Huruf Laam pada Kata Allaah (Laam Jalaalah)
Huruf Raa
Beberapa Hukum Membaca
Cara Berhenti pada Akhir Kata .
Hukum Mim Bertasydid dan Nun Bertasydid; Ghunnah
Membaca Al (Alif Laam Ma‘rifat)
Hukum Nun Mati dan Tanwiin
Iqlaab
Izhhaar
Idghaam
Ikhfaa’
Hukum Mim Mati
Idghaam Mutamaatsilayn
Ikhfaa’ Syafawii
Izhhaar Syafawii
Idghaam
Idghaam Mutamaatsilayn
Idghaam Mutajaanisayn dan Idghaam Mutaqaaribayn
Memanjangkan Bunyi Sebuah Huruf (Mad)
Mad Thabii‘i
Mad Far‘ii
Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaaiz Munfashil
Mad Jaaiz ‘Aaridh Lissukuun
Mad Laazim Kilmi
Mad Laazim Harfii
Perhentian dalam membaca Al-Quran;Waqaf dan Ibtida
Beberapa Hukum Membaca (Lanjutan)
Jenis Hamzah
Tanwin Bertemu Hamzah Washal
IDGHOM BIGHUNNAH
Idghom bighunnah yaitu salah satu dari bermacam-macam ilmu tajwid atau ilmu yang mempelajari tatacara membaca al-qur’an. Pengertiannya adalah, yaitu apabila ada tanwin atau nun mati bertemu dengan salah satu huruf idghom bighunnah yang berjumlah 4(ya, nun mim, dan wawu) maka hukum bacaannya dibaca dengung.

Iqlab
Yaitu apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba’ maka hukum bacaannya adalah iqlab (mengganti tanwin atau nun mati dengan huruf mim)


Ikhfa’
Ikhfa yaitu apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ikhfa’ yang berjumlah 15 yaitu : sin, qof, syin, jim, kaf tsa, dhal, shod, dhodh, dlodh, ta’, fa’, za, tho’, dan dal, maka hukum bacaannya adalah ikhfa’ (menyamarkan bacaan antara idhar dan idhghom)

IDHAR HALKI
IDHAR KHALKI yaitu salah satu dari bermacam-macam ilmu tajwid atau ilmu yang mempelajari tatacara membaca al-qur’an. Pengertiannya adalah, yaitu apabila ada tanwin atau nun mati bertemu dengan salah satu huruf idhar yang berjumlah 6 (hamzah, kha’, kho’, ‘ain, ghoin, dan ha) maka hukum bacaannya dibaca jelas.
IDGHOM BILAGHUNNAH
Idghom bilaghunnah yaitu salah satu dari bermacam-macam ilmu tajwid atau ilmu yang mempelajari tatacara membaca al-qur’an. Pengertiannya adalah, yaitu apabila ada tanwin atau nun mati bertemu dengan salah satu huruf idghom bighunnah yang berjumlah (lam dan ro’) maka hukum bacaannya dibaca jelas/tanpa dengung

MATERI ILMU TAJWID

TANDA-TANDA WAQAF DAN WASHAL
Waqaf artinya: sebaiknya berhenti.
م   ( وقف لا زم )     : harus berhenti
( معا نقه )      : berhenti di salah satu titik
ط   ( وقف مطلق )    : sebaiknya berhenti
قلى ( الوقف اولى )   : sebaiknya berhenti
قف ( الوقف )          : sebaiknya berhenti
ج   ( وقف جا ئز )    : boleh berhenti, juga boleh terus
Washol artinya: sebaiknya terus.
لا       ( الوقف ممنوع )       : sebaiknya terus
صلى   ( الوصل اولى )         : sebaiknya terus
ز        ( مجوز الوقف )        : sebaiknya terus
ص      ( مر خص الوقف )    : sebaiknya terus
ق       ( قيل هو وقف )         : sebaiknya terus

GHUNNAH

Ghunnah artinya mendengung. Hal ini berarti bahwa setiap ada huruf Nun atau Mim yang bertasydid maka hukum bacaannya dinamakan Ghunnah.
Contoh:
اِ نَّ       ثُمَّ        اِ نَّمَا       فَلَمَّا
HUKUM NUN SUKUN/TANWIN
Perbedaan Nun sukun atau Tanwin adalah sama dalam lafadz tetapi lain dalam tulisan. Adapun hukum Nun sukun atau Tanwin dibagi menjadi 6 macam, antara lain:
  1. Idghom Bighunnah
Idghom     : memasukkan
Bighunnah : dengan mendengung
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 4 huruf, antara lain:ي  ن م و atau biasa di singkat dengan bunyi يَنْمُوْ



Contoh:
مَنْ يَقُوْ لُ ( نْ- ي )           فَلَنْ نَِّزيْدَ كُمْ ( نْ- ن )
فَتْحًا مُبِيْنًا ( _ً  – م)           مِنْ وَّرَائِهِمْ ( نْ- و )
  1. Idghom Bilaghunnah
Idghom         : memasukkan
Bilaghunnah : dengan tanpa mendengung
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 2 huruf, antara lain: ل dan ر
Contoh:
مِنْ لَدُ نْكَ ( نْ- ل )                   غَفُوْرٌرَحِيْمٌ ( _ٌ – ر)
  1. Idzhar
Idzhar berarti: jelas atau terang
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 6 huruf, antara lain: ﻫ  أ ح خ ع غ
Contoh:
كُفُوًا اَحَدٌ ( _ً – ا)              مِنْ حَيْثُ ( نْ – ح )           مَنْ خَفَّتْ ( نْ – خ )
خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( ٍ – ع )          قَوْ مًا غَيْرَ كُمْ ( _ً -غ)        لَكُمُ اْلاَ نْهَا َر ( نْ – ﻫ )
  1. Iqlab
Iqlab berarti:
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan satu huruf dari huruf hijaiyyah yaitu: ب
Contoh:
مَنْ بَخِلَ ( نْ – ب )                 عَوَا نٌ بَيْنَ ( _ٌ – ب)
  1. Ikhfa’
Ikhfa’ berarti: samar-samar
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 15 huruf, antara lain:
ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك
Contoh:
مِنْ تَحْتِهَا ( نْ – ت )             مَاءً ثَجَا جًا ( _ً – ث)            اَنْجَيْنَا كُمْ ( نْ – ج )
قِنْوَانٌ دَانِيَةٍ ( _ٌ – د)             مَنْ ذَالَّذِ يْ ( نْ – ذ)             يَوْمَئِذٍ زُرْقًا ( ٍ – ز )
اِنَّ اْلاِ نْسَا نَ ( نْ – س )        عَذَا بٌ شَدِ يْدٌ ( _ٌ – ش)        قَوْ مًا صَا لِحِيْنَ ( _ً – ص)
مُسْفِرَ ةٌ ضَا حِكَةٌ ( _ٌ – ض)    وَمَا يَنْطِقُ ( نْ – ط)             عَنْ ظُهُوْرِهِمْ ( نْ – ظ)
عُمْيٌ فَهُمْ ( _ٌ – ف)               رِزْقًا قَا لُوْا ( _ً – ق)          مَنْ كَا نَ يَرْجُوْا ( نْ – ك)

HUKUM MIM SUKUN
Hukum Mim sukun dibagi menjadi 3 macam, antara lain:
  1. Idghom Mitsli (Idghom Mimi)
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Mim
Contoh:
كُنْتُمْ مُسْلِمِيْنَ ( مْ – م )
  1. Ikhfa’ Syafawi
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Ba’
Contoh:
تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ ( مْ – ب )

  1. Idzhar Syafawi
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain Mim dan Ba’
Contoh:
هُمْ نَا ئِمُوْنَ ( مْ – ن )                   اَمْ لَمْ تُنْدِ رْ هُمْ ( مْ – ت )
الخ ……..

HUKUM IDGHOM
Hukum Idghom dibagi menjadi 3 macam, antara lain:
  1. Idghom Mutamatsilain
Artinya: jika ada huruf yang sama, yang pertama sukun dan yang kedua hidup.
Contoh:
اِضْرِ بْ بِعَصَا كَ ( بْ – بِ )
  1. Idghom Mutajanisain
Dinamakan Idghom Mutajanisain jika TA sukun bertemu THA, THA sukun bertemu TA, TA sukun bertemu DAL, DAL sukun bertemu TA, LAM sukun bertemu RA, DZAL sukun bertemu ZHA.
Contoh:
(تْ- ط )   قَالَتْ طَا ئِفَة ٌ         ( طْ- ت )  لَئِنْ بَسَطْتَ            ( تْ- د )  اَثْقَلَتْ دَ عَوَا
( دْ- ت )   قَدْ تَبَيَّنَ                ( لْ- ر )  قُلْ رَبِّ                  ( ذْ- ظ )   اِذْ ظَلَمُوْا
  1. Idghom Mutaqorribain
Dinamakan Idghom Mutaqorribain jika TSA sukun bertemu DZAL, QAF sukun bertemu KAF, BA sukun bertemu MIM.
Contoh:
( ثْ- ذ )  يَلْهَثْ ذ لِكَ             ( قْ- ك )  اَلَمْ نَخْلُقْكُمْ             ( بْ- م ) يبُنَيَّ ارْ كَبْ مَعَنَا

QALQALAH
Qalqalah artinya memantul. Huruf Qalqalah ada lima, antara lain:
ق ط ب ج د biasa disingkat dengan bunyi   قَطْبُ جَدٍّ
Contoh:
ق- يَقْرَ أُ          ط- يَطْهَرُ           ب- يَبْخَلُ           ج- يَجْعَلُ           د- يَدْ خُلُ
Qalqalah dibagi dua:
  1. Qalqalah Sughra
Adalah: huruf Qalqalah yang matinya asli, sebagaimana contoh diatas.
  1. Qalqalah Kubra
Adalah: huruf Qalqalah yang matinya disebabkan waqaf.
Contoh:
خَلَقَ dibaca   خَلَقْ               اَحَدٌ dibaca اَحَدْ

LAFADZ ALLAH
Hukum lafadz Allah dibagi dua, yaitu:
  1. Dibaca tafkhim, jika lafadz Allah didahului harakat fathah atau dhummah.
Contoh:
وَاللهُ           نَصْرُ اللهِ
  1. Dibaca tarqiq, jika lafadz Allah didahului harakat kasroh.
Contoh:
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمنِ ا لرَّ حِيْمِ


HURUF SYAMSIYAH DAN QAMARIYAH
Huruf Syamsiyah dan huruf Qamariyah jumlahnya sama yaitu masing-masing ada 14 huruf.
  1. Huruf Syamsiyah: jika ada  ال bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 14, antara lain:
ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن
Contoh:
وَالتِّيْنِ         اَلدُّ نْيَا         وَالشَّمْسِ           النِّعْمَةِ
الخ……
  1. Huruf Qamariyah: jika ada ال   bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 14, antara lain:
ب ج ح خ ع غ ف ق ك م و ﻫ ء ي
Contoh:
اَلْجُمُعَةُ           اَلْخَيْرُ           اَلْفِيْلُ            اَلْكَبِيْرُ
الخ……

IDZHAR WAJIB
Dinamakan Idzhar Wajib, jika ada Nun sukun atau Tanwin bertemu huruf YA atau WAWU dalam satu kalimat. Cara membacanya: terang atau jelas. Namun, didalam Al-Qur’an bacaan Idzhar Wajib ini hanya ada 4, yaitu:
اَلدُّ نْيَا              بُنْيَانٌ                 صِنْوَانٌ                    قِنْوَانٌ


HUKUM RA’
Hukum Ro’ ada dua:
  1. Ro’ yang dibaca Tafkhim
Ciri-ciri:
  1. Ro’ fathah, Ro’ fathah tanwin.
  2. Ro’ dhummah, Ro’ dhummah tanwin.
  3. Ro’ sukun didahului fathah atau dhummah.
  4. Ro’ sukun didahului kasrah ada hamzah washal.
  5. Ro’ sukun didahului kasrah bertemu huruf isti’la’.
Contoh:
a)      رَ- رًا        رَبَّنَا                  خَيْرًا
b)      رُ- رٌ         رُوَيْدًا                كَبِيْرٌ
c)      _َ _ُ  _ْ      اَرْ سَلَ              قُرْ ا نٌ
d)     _ِ ا رْ        اَ مِرْ تَا بُوْا         اِ رْ جِعُوْ ا
e)      _ِ رْ – خ ص ض ط ظ غ ق   مِرْ صَا دٌ         قِرْ طَا سٌ
  1. Ro’ yang dibaca Tarqiq
Ciri-ciri:
a)      Ro’ kasrah, Ro’ kasrah tanwin.
b)      Ro’ sukun didahului kasrah.
c)      Ro’ hidup didahului Ya’ dibaca waqaf.
Contoh:
a)      رِ- رٍ         رِجْسٌ            خُسْرٍ
b)      _ِ  رْ         فِرْ عَوْ نَ        فَكَبِّرْ
c)      _َِ ي  ُِ ر ٌٍ    خَيْرٌ              بَصِيْرٍ



HUKUM MAD
Hukum Mad dibagi dua:
  1. Mad Thabii
Yang dinamakan dengan mad Thabi’i, adalah: jika fathah diikuti ALIF, kasrah diikuti YA, dhummah diikuti WAWU. Panjang bacaannya: satu alif (dua harakat)
Contoh:
دَا – دِيْ – دُوْ       نُوْ حِيْهَا
  1. Mad Far’i
Mad Far’i dibagi menjadi 13, antara lain:
  1. Mad wajib muttashil
ialah: Mad Thabii bertemu hamzah dalam satu kalimat. panjang bacaannya: 2,5 alif (5 harakat).
Contoh:
جَاءَ               لِقَاءَ نَا             نِدَاءً
  1. Mad jaiz munfashil
ialah:   Mad Thabii bertemu hamzah (bentuknya huruf alif) di lain kalimat. Panjang bacaannya: 2,5 alif (5 harakat).
Contoh:

اِنَّا اَعْطَيْنَا                   اِنَّا اَ نْزَلْنَا

  1. Mad ‘aridh lissukun
ialah:  Mad Thabii bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjang bacaannya:  3 alif (6 harakat).
Contoh:

اَبُوْكَ = اَبُوْكْ                عِقَا بِ = عِقَا بْ

  1. Mad ‘iwadh
ialah:  jika ada fathah tanwin yang dibaca waqaf, selain TA’ marbuthah. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat).
Contoh:

عَلِيْمًا = عَلِيْمَا

  1. Mad shilah
ialah: setiap dhomir HU dan HI apabila didahului huruf hidup. Mad shilah dibagi dua, yaitu: Mad shilah qashirah dan Mad shilah thawilah. Yang dinamakan Mad shilah thawilah, adalah Mad shilah qashirah bertemu huruf hamzah (bentuknya alif).
Panjang bacaan Mad shilah qashirah: 1 alif (2 harakat).
Contoh:
لَه‘-  بِه
Panjang bacaan Mad shilah thawilah: 2,5 alif (5 harakat).
Contoh:
اَنَّ مَا لَه اَخْلَدَه
  1. Mad badal
ialah:   setiap Aa, Ii, Uu yang dibaca panjang. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat).
Contoh:

امَنُوْا              اِيْتُوْ نِيْ                  اُوْ تِيَ



  1. Mad tamkin
ialah:  YA kasrah bertasydid bertemu YA sukun. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat).
Contoh:

اُمِّيِّيْنَ                   حُيِّيْتُمْ                 نَبِيِّنَ

  1. Mad lin
ialah:  fathah diikuti WAWU atau YA sukun bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat).
Contoh:

خَوْ فٌ = خَوْفْ                   اِلَيْهِ = اِلَيْهْ

  1. Mad lazim mutsaqqal kalimi
ialah: Mad Thabii bertemu tasydid. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat).
Contoh:

وَ لاَ الضَا لِّيْنَ

  1. Mad lazim mukhaffaf kalimi
ialah: Mad badal bertemu sukun. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat).
Contoh:

ا لاْنَ

  1. Mad lazim musyabba’ harfi
ialah:  huruf hijaiyyah yang dibaca panjangnya 3 alif (6 harakat). Jumlah hurufnya ada 8, yaitu:

ن ق ص ع س ل ك م

Contoh:

ن   ق   ص    ا لمّ      ا لمّص

  1. Mad lazim mukhaffaf harfi
ialah:  huruf hijaiyyah yang dibaca panjangnya 1 alif (2 harakat). Jumlah hurufnya ada 5, yaitu:

ح ي ط ر

Contoh:

طه          يس           عسق         كهيعص            ا لمّر

  1. Mad farq
ialah: Mad badal bertemu tasydid. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat).
Contoh:
قُلْ اْلا للهُ








 

HUKUM WANITA MEMBACA AL QUR’AN DENGAN TARTIL DI HADAPAN NON MAHRAM

 

Alqur'an
Oleh : al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts wal Ifta’
Pertanyaan :
Apa hukum mengadakan perlombaan tartil al-Qur’anul Karim bagi wanita dengan kehadiran kaum laki-laki?
Jawaban :
Wanita mentartilkan bacaan a-Qur’an dengan kehadiran laki-laki (yang bukan mahrom, red) adalah tidak boleh, karena dikhawatirkan adanya fitnah bagi mereka. Dan syari’at telah datang untuk menutup segala yang bisa menjerumuskan kepada yang haram.

~*!*~

Tidak Sepatutnya Bagi Wanita Membaca al-Qur’an dengan Tajwid di Hadapan Laki-laki yang Bukan Mahrom
Oleh : asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh berkata :
Seorang pengajar al-Qur’an (laki-laki,red) jika mengajari wanita melalui telepon kemudian para wanita tersebut membaca dan memperdengarkan suaranya kepada pengajar al-Qur’an tadi, maka hukumnya sama dengan jika ia mendengar suara qiro’ah mereka dari balik hijab dengan tidak terlihatnya para wanita tersebut, fitnah terjadi pada dua keadaan ini. Baik ia mendengar suara mereka melalui media udara atau angin tanpa perantara kabel atau dengan kabel (telepon, dll. red) maka sesungguhnya suara tersebut adalah suara wanita itu juga.
Dan suara wanita bukanlah aurat, menyelisihi dengan apa yang masyhur di kalangan orang-orang, akan tetapi disyaratkan pada hal ini suaranya tersebut adalah suara yang biasa. Adapun jika wanita itu membaca dengan ghunnah, iqlab dan idzhar dan.. dan.. seterusnya… dan mad thobi’i, muttashil, dan munfashil. Dan ini merupakan tajwid, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
من لم يتغن بالقرآن فليس منا
“barangsiapa yang tidak melagukan al-Qur’an maka ia bukan dari golongan kami”
Jadi wanita juga seharusnya melagukan al-Qur’an, akan tetapi tidak boleh di hadapan laki-laki secara mutlak, baik dengan melalui siaran atau telepon.
[Diterjemahkan dari Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah No. 5413]

“HUKUM WANITA MEMBACA AL QUR’AN DENGAN TARTIL DI HADAPAN NON MAHRAM”

Klo di depan non mahram tetap ndak boleh,,,
Wallahu’alam
Aku biasanya bacanya di kamar kak, tapi ustad yang ngajari ngaji aku dulu laki”, tepatnya aku panggil kakek, kalau ngajari baca al-Qur’an harus dengan suara yang keras, so.. kalau ada kesalahan bacaan gitu beliau tahu kak, nah itu gimana kak?
Hmm,,,
lakilaki yang sudah berumur..dan digunakan untuk pengajaran…insya Alloh boleh dek..dengan catatan kita belum terlalu menguasai tajwid tersebut..Wallahu’alam
Subhanallah… hatur nuwun infonya ukthiy… :D samisami dede’ sayang…Afwan nggih mbak teh jarang update…^^ Jazakillahu khoyr atas artikelnya. Amin wa iyaka barakallahufiky assalamu’alaikum..
dalam hadits memang suara termasuk salah satu aurat wanita.
tetapi dalil jika belajar di depan bukan mahramnya Tidak Sepatutnya Membaca al-Qur’an dengan Tajwid ada dalil atau hadistnya ngga ?
afwan cuma ingin tahu ajah
Afwan, karena kejahilan ana dan kurang ilmu sehingga masih belum menemukan hadits khusus tentang hal tersebut…
Tetapi, adapun masalah mendayu-dayukan suara sangat populer sekali masalah hal ini, Al mitslu:
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al Ahzab: 32).


Sejarah Pemberian Tanda Baca Al-Qur'an & Ilmu Tajwid."

 
Tak bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membaca Alquran andai hingga saat ini kalam Ilahi itu masih ditulis dalam huruf Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana di zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin.

Jangankan harakat fathah (baris atas), kasrah (baris bawah), dhommah (baris depan), dan sukun (tanda wakaf, mati), bentuk serta tanda titik-koma (tanda baca) saja tidak ada. Tentu, masih lebih mudah membaca tulisan Arab yang ada di kitab kuning yang gundul (tanpa harakat) karena umat Islam masih bisa mengenali huruf-hurufnya berdasarkan bentuk dan tanda bacanya. Misalnya, huruf ta, tsa, ba, nun, syin, sin, shad, tho', dan sebagainya walaupun tidak mengetahui terjemahannya.

Beruntunglah, kekhawatiran-kekhawatiran ini cepat teratasi hingga umat Islam di seluruh dunia bisa mengenali dan lebih mudah dalam membaca Alquran. Semua itu tentunya karena adanya peran dari sahabat Rasul, tabin, dan tabiit tabiin.Pemberian tanda baca (syakal) berupa titik dan harakat (baris) baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam atau setelah 40 tahun umat Islam membaca Alquran tanpa ada syakal.

Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase.

Fase Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abdul Aswad Ad-dawly untuk meletakkan tanda baca (i'rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa' dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin 'Ashim dan Hay bin Ya'mar.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan Alquran bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan Alquran dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan Alquran baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab ('ajami).

Baru kemudian, Fase ketiga pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada.

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad.


Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah 'ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Alquran adalah tajzi', yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata 'juz' dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.

Pemeliharaan Alquran dari Masa ke Masa

Dalam Alquran surah Al-Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman, ''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.'' Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Alquran selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan. Karena itu, banyak umat Islam, termasuk di zaman Rasulullah SAW, yang hafal Alquran. Dengan adanya umat yang hafal Alquran, Alquran pun akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman.

Selanjutnya, demi memudahkan umat membaca Alquran dengan baik, mushaf Alquran pun dicetak sebanyak-banyaknya setelah melalui tashih (pengesahan dari ulama-ulama yang hafal Alquran). Alquran pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar Alquran yang telah dicetak itu dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak Alquran di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M atau sekitar abad ke-12 H. (Lihat RS Abdul Aziz, Tafsir Ilmu Tafsir, 1991: 49). Kini, Alquran telah dicetak di berbagai negara di dunia.

Pemeliharaan Alquran tak berhenti sampai di situ. Di sejumlah negara, didirikan lembaga pendidikan yang dikhususkan mempelajari Ulum Alquran (ilmu-ilmu tentang Alquran). Salah satu materi pelajaran yang diajarkan adalah hafalan Alquran. Di Indonesia, terdapat banyak lembaga pendidikan yang mengajak penuntut ilmu ini untuk menghafal Alquran, mulai dari pendidikan tinggi, seperti Institut Ilmu Alquran (IIQ) hingga pesantren yang mengkhususkan santrinya menghafal Alquran, di antaranya Pesantren Yanbuul Quran di Kudus (Jateng).

Demi memotivasi umat untuk meningkatkan hafalannya, kini diselenggarakan Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ), dari tingkatan satu juz, lima juz, 10 juz, hingga 30 juz. ''Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.'' (HR Bukhari). Adanya lembaga penghafal Alquran ini maka kemurnian dan keaslian Alquran akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, para penghafal Alquran ini akan ditempatkan di surga. Wa Allahu A'lam.

Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), Alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Kata 'Alquran' adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja (fi'il madli) qaraa yang artinya membaca.

Para pakar mendefinisikan Alquran sebagai kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan bagi orang yang membacanya termasuk ibadah. Al-Qur'anu huwa al-kitabu al-Mu'jiz al-Munazzalu 'ala Muhammadin bi wasithah sam'in aw ghairihi aw bilaa wasithah.

 
 

Ada juga yang mendefinisikannya sebagai firman Allah yang tiada tandingannya. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul, dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dimulai dengan surat Alfatihah dan ditutup dengan surat Annas.

Alquran terdiri atas 114 surat serta 30 juz dengan jumlah ayat lebih dari 6.000 ayat. Kalangan ulama masih berbeda pendapat mengenai jumlah ayat Alquran. Ada yang menyebutkan jumlahnya sebanyak 6.236 ayat, 6.666 ayat, 6.553 ayat, dan sebagainya. Perbedaan penghitungan jumlah ayat ini karena banyak ulama yang belum sepakat apakah kalimat Bismillahirrahmanirrahim yang ada di pembukaan surah dan huruf Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Yaa Sin, Shad, dan Qaaf termasuk ayat atau bukan. Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan mengenai jumlah ayat. Namun demikian, hal itu tidak menimbulkan perpecahan di antara umat.

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Para ulama membagi masa penurunan ini menjadi dua periode, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW. Sementara itu, periode Madinah dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun.

Sedangkan, menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi kepada surat-surat Makkiyah (ayat-ayat Alquran yang turun di Makkah) dan Madaniyah (diturunkan di Madinah). Surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah, sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.

Sementara itu, dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada dalam Alquran terbagi menjadi empat bagian. Pertama, As-Sab'u al-Thiwaal (tujuh surat yang panjang), yaitu Albaqarah, Ali Imran, Annisa', Al A'raf, Al An'am, Almaidah, dan Yunus. Kedua, surat-surat yang memiliki seratus ayat lebih (Al Miuun), seperti surat Hud, Yusuf, Mu'min, dan sebagainya.

Ketiga, surat-surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus ayat (Al Matsaani), seperti surat Al Anfal, Alhijr, dan sebagainya. Keempat, surat-surat pendek (Al-Mufashshal), seperti surat Adhdhuha, Al Ikhlas, Alfalaq, Annas, dan sebagainya


Setelah kita mendiskusikan ejaan (ortografi) sekarang kita beralih pada masalah tulisan (palaeografi).23 Seperti dalam bab sebelumnya kita menelusuri palaeografi Arab dalam perspektif sejarah, sekarang kita hendak telusuri dalam konteks AI-Qur’an dan meneliti perkembangannya. Sebagian besar dari diskusi ini akan berputar di sekitar permasalahan nuqat (tk-17 : titik ) yang mempunyai dua makna pada zaman awal Islam:
tk-13
Kita akan diskusikan kedua-duanya dengan panjang lebar.

i. Tulisan Arab Kuno dan Kerangka Tanda Titik
Rasm al-Khat (lit. gambar skrip) Al-Qur’an dalam Mushaf ‘Uthmani tidak memuat tanda titik untuk membedakan karakter seperti b (tk-18 ), t (tk-19 ), dan seterusnya, dan juga tidak ada baris diakritikal (bawah, atas) seperti fathah, dammah, dan kasrah. Sebenarnya ada bukti kukuh yang menunjukkan bahwa konsep tanda titik ini bukan sesuatu yang baru untuk orang Arab, sudah diketahui sebelum Islam datang. Walaupun bagaimana tanda titik ini tidak ada pada Mushaf-Mushaf klasik. Apa pun juga alasan filosofisnya di kejadian ini,26 saya akan mengemukakan beberapa contoh untuk membuktikan bahwa palaeo­grafi (tulisan) Arab klasik mempunyai tanda titik untuk menemani kerangka sifat (huruf).
  1. Batu nisan Raqush, Inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua, tahun 267 M., mencatat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin.27
  2. Sebuah inskripsi, kemungkinan sebelum Islam, di Sakaka (Arab Utara), ditulis dalam skrip yang rada aneh:
tk-11

tk-14
tk-12
tk-10_
tk-15_
tk-9

tk-16_
ii. Penemuan Tanda Diakritikal
Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tashkil yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaika melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar Al­Qur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.36
Ad-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mesti­nya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanween (dua dammah), Fathah tanween, atau kasrah tanween sebagaimana mestinya37 (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H. / 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah Mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M.
tk-7
Gambar 10.6: Contoh Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi, memuat kerangka tanda titik ad­ Du’ali. Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.
Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari ad-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laithi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu.38 Beberapa abad kemudian skim kerangka al­ Fraheedi menggantikan sistem sebelumnya.
Setiap pusat (kota) kelihatannya pada awalnya mempraktikkan kaidah yang berlainan. Ibn Ushta melaporkan bahwa Mushaf Isma’il al-Qust, Imam Mekah (100-170 H. / 718-186 M.) memakai sistem tanda titik yang tidak sama dengan Mushaf yang digunakan oleh orang Irak,39 sedangkan ad-Dani men­catat bahwa ilmuwan San’a’ mengikuti kerangka lain.40 Sama juga, bentuk atau contoh yang digunakan orang Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh orang Basra; pada ujung abad pertama hijrah bagaimanapun, kaidah orang Basra semakin meluas sehingga orang-orang Madinah pun mengadopsinya.41 Perkembangan berikutnya mulai memperkenalkan tanda titik warna-warni, setiap tanda diakritikal telah diberi warna yang berbeda.
tk6
Gambar 10.7: Contoh Mushaf dalam skrip Kufi. Titik diakritikal warna-warni (merah, Hijau, kuning, dan Biru muda). Per1u dicatat juga pemisah ayat dan tanda kesepuluh ayat, sebagaimana telah disinggung dalam bab 6. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.
iii. Penggunaan Secara Paralel dari Dua Skema Tanda Diakritikal yang Berbeda
Skim diakritikal Khalil bin Ahmad al-Fraheedi menyebar dengan cepat dalam pengenalannya bukan saja pada teks Al-Qur’an, jadi untuk tujuan mem­bedakan skrip dan tanda diakritikal yang digunakan untuk naskah Al-Qur’an selalu dijaga sehingga skrip dan tanda ini dibedakan dari skrip dan tanda yang

digunakan pada buku-buku lain, walau bagaimanapun beberapa ahli kaligrafi secara perlahan sudah mulai menggunakan sistem diakritikal yang baru dalam Al-Qur’an.42 Saya beruntung sekali karena mempunyai beberapa buah gambar Al-Qur’an berwarna dari koleksi San’a', di mana dengan perkembangan skim seperti ini akan mudah dijelaskan.
Gambar 10.6 dan 10.7 (di atas) kemungkinan dari abad kedua hijrah sedang­kan di bawah ini adalah contoh skrip Al-Qur’an pada abad ketiga hijrah.43
tk-5
Gambar 10.8: Contoh skrip AI-Qur’an pada abad ketiga hijrah. Perlu dicatat lagi tanda titik warna-warni. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.
Gambar berikut ini adalah contoh skrip yang bukan Al-Qur’an pada periode yang sama. Perbedaannya dapat dilihat dalam skrip dan dalam skim kerangka yang digunakan pada titik dan tanda diakritikal. Untuk contoh yang lain, lihat gambar 10.11 dan 10.12.
tk-4
Garnbar 10.9: Contoh skrip yang bukan Al-Qur’an, akhir abad kedua Hijrah. Perlu dicatat tanda diakritikal sama dengan skim al-Fraheedi. Sumber: A. Shakir (peny.) ar-Risalah of ash-Shafi’i, Kairo 1940, Papan gambar 6.

23. Sebagai peringatan: ortografi adalah ejaan yang konvensional, sedangkan palaeografi (dalam konteks ini) akan membahas tentang skrip sebuah bahasa, dengan bentuk hurufnya dan penempatan titik dan sebagainya.24. Ini berarti untuk menggambarkan bunyi pendek vokal. Nama lain adalah al-haraka6 clan dalam bahasa Urdu ini disebut zair, zabar, paish…dst.
25. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 6. Pengarang terkenal, ad-Dau’ali menulis karangannya tentang grammar (dan menemukan tashkil) sckitar tahun 20 H. / 640 M.
26. Untuk mendiskusikan motif ini lihat hlm. 107. Apakah ini disebabkan perbedaan dalam
pembacaan Al-Qur’an bisa dilihat pada bab ke-11.
27. Untuk lebih detailnya, lihat 134.
28. F.V. Winnet dan W.L. Reed, Ancient Records from the North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hlm. 11.
29. M. Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 44, 45; lihat juga S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabic, hlm. 102-103.,
30. Hamidullah di dalam Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 47, melaporkan bahwa Grohmann (From the World of Arabic Papyri, Kairo, 1952, him. 62, 113-114) melakukan kesalahan dalam membaca lima baris teks Arab. Dalam baris 4, dia membaca   sedangkan ia adalah    pada baris 5, dia membaca   dan   padahal ia dibaca masing-masing dan
31. A. Munif, Dirasah Fanniyyah li Mushaf Mubakkir, hlm. 139 mengutip Grohmann, “Arabic Inscriptions”, Louvain 1962, vol. l, xxii, no. 2, hlm. 202.
32. Ibid, hlm. 140 merujuk kepada sebuah buku yang ditulis oleh Dr. S. ar-Rashid tentang Kota
Islam.
33. S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabe, hlm. 101-103 mengikuti G.C. Miles, “Early Islamic Inscriptions Near Taif, in the Hidjaz”, JNES, vol. Vii (1948), hlm. 236-242.
34. Al_Khatib al-Baghdadi, al-Jami, I:269.
35. Untuk lebih detail lagi, lihat bab tentang Metodologi Muslim.
36. Ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 4-5, catatan kaki 2, mengutip Ibn al-Anbari, al-Idah. hlm. 15a – 16a. An-Nadim memberikan penjelasan yang detail tentang manuskrip karangan ad-Du’ali tentang grammar. Dia menemukannya di perpustakaan Abi Ba’ra, terdiri dari empat folio dan ditulis (dikopi) oleh seorang ahli tata bahasa yang terkenal Yahya bin Ya’mar (meninggal 90 Hijrah/708 Masehi). Ini Mengandung tanda tangan ahli grammar yang lain, ‘ allan an-Nahawi, clan di atas tanda tangan an-Nadr bin Shumail. (an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 46). Tanda tangan ini mensahkan keaslian karya tulis Abu as­Aswad ad-Du’ali.
37. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 6-7
38. Ibid, hlm. 7.
39. Ibid, hlm. 9.
40. Ibid, hlm. 235.
41. Ibid, hlm. 7.
42. Di antara ahli kaligrafi ini adalah: Ibn Muqla (meninggal 327, Hijrah),. Ibn al-Bawwab (meninggal 413 Hijrah)… dst. Sebenamya Ibn al-Bawwab telah menyimpang ejaan (ortografi) Mushaf ‘Uthmani. Trend sekarang adalah kembali ke ortografi klasik, seperti Mushaf yang dicetak oleh Kompleks Raja Fahd di Madinah (lihat hlm. 131?..).
43. Berdasarkan penjelasan dalam katalog: Masahif San’a', Dar al-Athar al-Islamiyyah (Museum Nasional Kuwait), 19 Maret-l9 Mei 1985, Papan gambar no. 53. dalam hal ini saya ada beberapa catatan; contohnya saya pcrcaya bahwa gambar 10.6 adalah skrip akhir abad pertama hijrah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar